Skip to main content

Posts

Akan Jadi Memoar

Kala itu, di suatu hari yang tenang pada masa lockdown, kalangan pelajar dikejutkan dengan postingan salah satu politisi yang mengumumkan bahwa UN di semua jenjang pendidikan ditiadakan. Tentu, langsung terbentuk dua kubu netizen : pro dan kontra. Si Pro memperjelas di kolom komentar akan penghapusan UN tersebut, sedangkan Si Kontra ada yang mengumpat diam-diam ada pula yang menyindir kebijakan tersebut dengan halus, mengatakan bahwa usaha yang telah dilakukan para pelajar dalam mempersiapkan UN cenderung sia-sia. Berbeda tipe dengan para pelajar, mereka yang telah mempersiapkan dengan baik Ujian Nasional bersedih. Tidak bisa menuangkan pemikirannya, aspirasinya, daya upayanya, serta kemampuannya di dalam ujian tersebut, ekspektasi nilai maksimal pun raib ditelan cuitan-cuitan komentar netizen yang beragam. Di sisi lain, Si Malas Belajar dan yang terlalu santai dalam mempersiapkan Ujian Nasional tersenyum bahagia, toh mereka tidak merasa sia-sia hidupnya karena belum berusaha maksimal...

Pendewasaan ?

Remaja, ego, ketidakjelasan   Yang inginnya senang bahagia  Tiba-tiba sukses di masa depan Dasar manusia :)  Masa yang paling indah katanya Tapi buat daku masa yang paling menentukan Seperti apa dewasa kita? Seberapa cepat kita dewasa?  Melihat konflik cenderung menghindar Ah, biasa stereotip anak manja Oiya lupa anak memang tergantung orangtua  Tapi malah mengadu sana-sini mau jadi apa?  Sudah waktunya kita “berbodo amat” dengan pandangan orang lain Era narsistik yang cenderung komentar ngurusin hidup orang lain  Penulis bukan naif bukan merasa paling benar, tapi ada baiknya kita berproses nobody’s perfect bruh, I’m tired

My Achievement!🙋🏼‍♂️

DAFTAR PRESTASI Abiyu Safabakas Pemuka  2010-2011 (TK A & B) Piala Apresiasi Photo Contest  Pembaca Transliterasi Bahasa Inggris surat An-Nashr di Acara Wisuda TK Taruna Al-Quran 2011-2017 (SD Kelas 1-6) Kelas 1 Juara 1 Lomba IPA Sciencemaster se-DIY dan Jateng Semifinalis Olimpiade Sains Kuark DIY Kelas 2 Best Performance of Violin Contest by Gishan Project Semifinalis Olimpiade Sains Kuark DIY Juara 2 Lomba Puisi tingkat Paralel Sekolah  Kelas 3 Semifinalis Olimpiade Sains Kuark DIY Peserta Lomba IPA Tingkat Kelas 4 Kontingen DIY di Olimpiade & Lomba Kompetensi Al-Azhar se-Indonesia (OLKA) Kelas 4 Medali Perak Pertama Lomba IPA Tingkat Kelas 4 Kontingen DIY di Olimpiade & Lomba Kompetensi Al-Azhar se-Indonesia (OLKA) Semifinalis Olimpiade Sains Kuark DIY Kelas 5 20 Besar Lomba Menulis Non-Fiksi Kontingen DIY di Olimpiade & Lomba Kompetensi Al-Azhar se-Indonesia (OLKA) Juara 1 Saritilawah Al-Quran Lomba MTQ...

Bocah Lusuh Hilang Arah

Goresan Pena : Abiyu Safabakas Pemuka Celana kecoklatan, muka merah padam Telanjang kaki berpijak pada nasib muram Yang seharusnya dididik agar berpendidikan Tapi malah menjadi buangan ditengah teriknya awan  Dia pelakunya, dia pencurinya, dia yang menentukan nasibku Dia yang merenggut apapun dariku Dia yang berjingkrak kesenangan diatas deritaku Dia yang saat ini mengibas uang hasil korupsi dariku Ketika generasi kami tak lagi terdidik Nasib bangsa ini tak lagi baik Ketika anak menjadi pemulung lumrah kena terik Diterpa hujan sedikit bangsa hancur tercekik

Satire Untuk Calon Pelukis Histori

Satire Untuk Calon Pelukis Histori Goresan Pena : Abiyu Safabakas Pemuka Ribuan kalam telah terlukis dalam aksara Memenuhi gemintang tuntunan umat manusia Manusia berambisi, egoisme yang menggelora Ketika bapak makan anak menjadi hal yang lumrah Ironi... Ketika pemuda pertiwi debat sana-sini Hanya karena mencari jati diri Yang t’lah terlupa karena ambisi Bobrok... Ketika pena sudah tak lagi berpegang pada histori Karakter bobrok, hanya gembar-gembor lewat teori Lewat nawacita sang rezim, yang sedang unjuk diri Bisu... Saat mantan koruptor ‘ngotot’ ikut PEMILU Jelaslah betapa akutnya krisis rasa malu Siapa yang akan memutus rantai bersambung itu? Apakah kita, kamu, atau aku? Ketika karakter hanya ditepuki, bukan diilhami Bagaimana nasib pertiwi?  Ketika sang pena hanya berpegang pada teori Sekali lagi, sang pelukis sejarah lupa diri Histori berpesan pada sang pena, JASMERAH! Karakter sesuai dengan bangsa berbudi Bukan hanya condong ke barat, embel-embel...

See How Much I Like You (SHMILY)

Rintik hujan kemarin sore masih berbekas di ingatan  Berbekas bersama kenangan  Kenangan di waktu itu, menemukan sebuah harta karun di ujung pelangi  Kenangan yang membuatku bertemu dengan seorang bidadari  Seandainya waktu itu kamu tidak mengambil jalan ini  Setidaknya kita masih bersama menjalani Menjalani segala sesuatu yang berhubungan dengan hati  Aku masih menunggu, tidak ingin mendapat sepotong hati yang baru  Aku masih menyimpan kenangan itu Coklat darimu, serta kata-kata puitis milikmu  Aku menantimu dengan seluruh pengharapan, berharap kau kembali bersamaku ~ The title inspired by Mery Riana's Film

Indonesia, Kampung Halaman

   Hormat, entah apa yang Anda pikirkan tentang hormat. Apakah itu kewibawaan, atau hanya sekedar gerakan tangan yang dimana lengan lurus dengan bahu, lalu dengan tangan menyentuh ujung pelipis. Apapun Anda memaknainya, saya hanya ingin bercerita, tentang negara kita, tempat lahir kita, tanah tumpah darah kita, dan yang jelas kampung halaman kita. Sejauh apapun kakimu melangkah, kampung halamanmu tetap INDONESIA!    Genap 72 tahun lebih 2 hari umur Indonesia. Selama itu pula negara ini bertransformasi, dari Agustus ke Agustus. Semakin bertambah umur, negara ini makin berkembang. Perkembangan itu mencakup dua sisi, entah positif atau negatif. Semoga saja kedepannya semua perkembangan adalah POSITIF!    Menyinggung lagi soal hormat, bayangkan selama 72 tahun sudah berapa kali upacara diselenggarakan di Indonesia. Entah di sekolah-sekolah sampai upacara di Istana Negara. Bendera pertama yang dijahit Fatmawati dari sprei dan lap sudah dimusiumkan, sekarang ...