Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Biyu Nulis

Globalisasi Versus Globalisasi : Upaya Pemertahanan Adat Istiadat dengan Solusi Cerdas Era Global

       Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang sangat heterogen atau beragam. Indonesia juga dikenal sebagai negeri yang   gemah ripah loh jinawi   yang berarti kekayaan alam yang berlimpah. Bukan hanya alamnya, tetapi juga budayanya. Mulai dari suku, agama, ras, etnik, dan banyak unsur sosial lainnya. Dahulu, nenek moyang kita berdamai dengan perbedaan. Banyak peninggalan Hindu, tetapi mayoritasnya muslim. Seiring berjalannya waktu, selaras dengan seleksi alam, keturunan-keturunan nenek moyang ini makin beragam. Akan tetapi tidak makin berdamai. Mungkinkah kita mewujudkan   toto tentrem karto raharjo ? Sebuah ungkapan Bahasa Jawa yang menggambarkan pertiwi masa silam.   Menurut Koen Cakraningrat, adat merupakan suatu bentuk perwujudan kebudayaan yang digambarkan sebagai tata kelakuan. Adat juga merupakan norma atau aturan tidak tertulis namun keberadaannya sangat kuat dan mengikat. Siapapun yang melanggarnya akan dikenai sanksi yang c...

Menjagai Indonesia Tetap Berpancasila

       Indonesia merupakan negara pluralis yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, dan budaya. Agama menjadi salah satu poin utama dalam keberagaman di Indonesia. Indonesia di mata dunia terkenal toleran terhadap perbedaan agama. Apakah anggapan tersebut masih relevan dengan realita?      Toleransi menurut Dewan Ensiklopedi Indonesia merupakan suatu sikap membiarkan orang untuk mempunyai suatu keyakinan yang berbeda. Indonesia sebagai negara yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi pun telah diakui dunia. Beberapa waktu lalu, Indonesia menyabet juara 2 dalam ajang Pekan Kerukunan Antarumat Beragama Dunia atau World Interfaith Harmony Week (WIHW) dengan juara pertama diraih Australia dan juara ke-3 diraih oleh Inggris. Terkadang prestasi tersebut memang layak disandang bangsa Indonesia, tapi apakah di tahun politik ini masyarakat Indonesia masih menjunjung tinggi esensi toleransi? Seperti kita ketahui, saat ini konflik sengit perebutan ...

Seberapa Jauh Teknologi Membawamu?

      Generasi centennial atau generasi Z adalah generasi yang lahir setelah generasi Y atau yang biasa disebut generasi milenial. Generasi ini dibagi berdasarkan tahun kelahiran. Generasi Y lahir pada tahun 1977-1995, sedangkan generasi Z lahir setelahnya yaitu pada tahun 1996-sekarang. Generasi centennial adalah generasi yang sangat terbuka terhadap teknologi dan internet. Mereka hampir selalu membawa telepon pintar atau yang biasa dikenal sebagai smartphone kemanapun mereka berada. Segala aspek kehidupan pada Generasi Z pasti berkaitan dengan teknologi dan internet . Hal yang punya dua sisi yang berlawanan. Bisa memberikan kemudahan sekaligus senjata makan tuan.   Menurut KBBI internet adalah jaringan komunikasi elektronik yang menghubungkan jaringan komputer dan fasilitas komputer yang terorganisasi di seluruh dunia melalui telepon atau satelit. Di abad ke 21 ini, internet sangat diperlukan di dunia. Mulai dari kemudahan akses informasi sampai hal-hal yang s...

Aksara yang Bersuara, Bahasa yang Berbicara

Menurut KBBI, Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Dalam setiap aspek kehidupan, bahasa sangat diperlukan. Mari mengambil contoh dari Gajahmada. Bagaimana Mahapatih Gajahmada dapat menyampaikan sumpahnya? Sumpah yang masih diagung-agungkan dalam buku sejarah Nusantara.  Bahasa adalah  hal paling dasar dan paling krusial dalam kehidupan manusia. Dengan bahasa ilmu dapat diraih, dan dengan ilmu pula sukses di masa depan bisa tercapai. Bahasa juga dikenal sebagai  lingua franca . Terbentuknya bahasa dapat dipengaruhi oleh banyak hal. Mulai dari kebiasaan sampai ke pengaruh penjajahan. Bahasa juga bisa terbentuk oleh gabungan bahasa lain. Kita bisa melihatnya di Bahasa Indonesia, sejarah mengatakan bahwa Bahasa Indonesia berasal dari tanah Melayu yang kemudian bertransformasi menjadi Bahasa kita sekarang ini, bahasa yang mempersatukan nusantara, Bahasa Indone...

Ailoknalem

 Goresan Pena : Abiyu Safabakas Pemuka Tiada kelamin yang cengeng Standar itu dicipta manusia melenceng Maskulinitas yang rapuh terseruduk banteng Dibuat manusia, beban manusia pula, tiada enteng Melankolia tak mengenal kelamin  Tapi ia kenal lika-liku, ayah-ibu, asam-garam, dan tawa-jerit-tangis batin Ia juga akrab bercengkrama dengan takdir tuhan dan suasana lain Ia hadir saat istimewa, meruntuhkan segala sekat terjalin Setiap kelamin punya batin, maka berbahagialah dalam pecah air mata!  Apakah yang kulihat ini anomali semata? 

Pengennya Sih Produktif

2020 seakan jadi tahun yang berat untuk kita semua. Dari mulai banyaknya kasus berat yang ramai diperbincangkan sampai berita duka dari para legenda Indonesia seperti Glenn Fredly, Didi Kempot, dan Sapardi Djoko Damono. Ditambah lagi kita merasakan pandemi COVID-19. Semoga saja dunia (khususnya Indonesia) lekas pulih. Di dunia pendidikan sendiri sebagian orang merasakan hal baru yaitu School From Home (SFH) yang tentunya juga menuai pro dan kontra. Anak-anak TK & SD sebagian besar membutuhkan bantuan dari orangtua, inilah yang kadang membuat konflik antar orangtua dan anak. Anak seusia mereka yang mungkin belum paham esensi belajar di rumah, tidak serius dalam belajar, karena mungkin menurut mereka tempat untuk belajar hanyalah di sekolah. Dari orangtua sendiri kebanyakan juga sudah disibukkan dengan pekerjaan kantor yang mungkin bertambah saat WFH tambah lagi ngurusin Si Anak belajar. Gak paham juga tahun ini kenapa, kesannya menyedihkan. Selalu aja ada peristiwa yang bikin ...

Sosial Berarti Bersama

Sebuah tugas kelas online kala itu Goresan Pena : Abiyu Safabakas Pemuka Memahami pandemi Corona yang menjadi isu sosial  Masyarakat berbondong-bondong membaca berita Entah akhirnya bersiap diri atau memilih tidak percaya Ada pula yang menganggap remeh, nyawa kehendak tuhan tanpa berupaya menjaga Itulah gunanya pengetahuan sebagai lentera Memahami isu yang menjadi masalah masyarakat Isu kesehatan yang juga isu sosial Pentinglah mengerti sosial untuk menyelesaikannya Dalam bidang akademik, semua jenjang kalut  Semua tatap muka raib ditelan bumi, dinding-dinding kelas klasikal    tak berpenghuni membisu Untunglah zaman telah berkembang, menjadikan internet sebagai media menuntut ilmu  Tak perlu terpaku dengan kurikulum, kita belajar hal baru, belajar mengenal untuk melawan Corona virus Pentinglah ilmu yang mengedepankan kesesuaian kondisi Ilmu seperti sosial yang tak melulu soal geografi & ekonomi murni Namun juga bisa di...

Berterimakasih Pada Semesta

Karya : Abiyu Safabakas Pemuka Terimalah terimakasih ini Wujud cinta kami Padamu yang telah tersakiti Karena ulah-ulah kami sendiri Saat ini warga bumi ditimpa pandemi Namun hikmahnya, engkau bisa hibernasi Sejenak, setelah sekian lama berjuang setengah mati Melawan anak-anakmu sendiri yang mencederai alam ini  Istirahatlah, ambil nafas sedalam inti bumi Agar luka-luka lama tertambal kembali Agar udara kembali menebar damai  Agar engkau bisa kami tinggali jutaan tahun lagi  Pulihlah semesta, maafkan kami Ego yang melupakan segala, buat kami tak bersahabat dengan alam ini  Perintilan perihal manusia buatmu sakit Aku berharap, balas dendammu tak mengakhiri masa kami Haruskah kami mengisolasi diri setahun sekali? 

Kontemplasi Aku

Goresan Pena : Abiyu Safabakas Pemuka Mendayu saat gamelan mengalun Merayu dengan romantisme alun-alun Lampu Malioboro yang bertalu  Semakin menambah keraguanku Aku  Bisu Ragu Satu Aku yang kali ini membisu dibawah syahdunya purnama  Aku yang kali ini ragu akan tujuan aku ada di dunia Aku yang bimbang menanyakan kepada aku siapa aku Rangkuman kebingungan aku yang menjadi satu  Aku seorang anak yang ragu akan cita-citanya Makin dewasa makin ragu akan minat dan bakatnya  Inikah yang dinamakan beranjak dewasa?  Ketika keputusan besar dalam hidup berlabuh di benak manusia Ketika dunia dalam kelam  Aku ingin hadir disana jadi cahaya Lentera cahaya menghalau kelam  Tapi aku ragu apakah itu termasuk sebuah pekerjaan  Seiring hari beranjak anganku berlabuh Mengantarkanku ke dalam pemahaman yang baru  Aku ingin punya media, yang jernih seperti tirta sedang mengalir dari hulu Bukan punya k...

Manakala

Goresan Pena : Abiyu Safabakas Pemuka Dalam waktu kita hidup Nafas menemani, selalu berhembus Menapaki dunia, pengalaman, masa lalu Menjadi dewasa pembelajar atau budak masa lampau HEI KAMU AKU KALIAN, JANGAN TERBELENGGU! Kita mempunyai hak atas jiwa raga tubuh Jangan membiarkan sedih, dunia runtuh Susah memang, tapi dewasa harus

Jelma

Goresan pena : Abiyu Safabakas Pemuka Tenang kadang terlalu meghanyutkan Bagai liburan yang tak lagi menyenangkan Dalam keadaan kelabu tanpa kejelasan Harus bagaimana?  Beban hidup biasa kita angkat Namun beban hidup kita yang maya?  Tugas, kerjaan, laporan ibarat bilangan berpangkat Meski telah dipangkat nol tapi tetap ada satunya Satu berakhir, ribuan muncul Bagai robot yang selalu jadi babu Bagai ombak yang tak pernah henti berlabuh TAPI KITA HANYA MANUSIA LESU!  Video pembacaan puisi ini ada di YouTube klik tautan dibawah ini👇🏻 https://youtu.be/Jhl-3RbUaqo

Akan Jadi Memoar

Kala itu, di suatu hari yang tenang pada masa lockdown, kalangan pelajar dikejutkan dengan postingan salah satu politisi yang mengumumkan bahwa UN di semua jenjang pendidikan ditiadakan. Tentu, langsung terbentuk dua kubu netizen : pro dan kontra. Si Pro memperjelas di kolom komentar akan penghapusan UN tersebut, sedangkan Si Kontra ada yang mengumpat diam-diam ada pula yang menyindir kebijakan tersebut dengan halus, mengatakan bahwa usaha yang telah dilakukan para pelajar dalam mempersiapkan UN cenderung sia-sia. Berbeda tipe dengan para pelajar, mereka yang telah mempersiapkan dengan baik Ujian Nasional bersedih. Tidak bisa menuangkan pemikirannya, aspirasinya, daya upayanya, serta kemampuannya di dalam ujian tersebut, ekspektasi nilai maksimal pun raib ditelan cuitan-cuitan komentar netizen yang beragam. Di sisi lain, Si Malas Belajar dan yang terlalu santai dalam mempersiapkan Ujian Nasional tersenyum bahagia, toh mereka tidak merasa sia-sia hidupnya karena belum berusaha maksimal...

Pendewasaan ?

Remaja, ego, ketidakjelasan   Yang inginnya senang bahagia  Tiba-tiba sukses di masa depan Dasar manusia :)  Masa yang paling indah katanya Tapi buat daku masa yang paling menentukan Seperti apa dewasa kita? Seberapa cepat kita dewasa?  Melihat konflik cenderung menghindar Ah, biasa stereotip anak manja Oiya lupa anak memang tergantung orangtua  Tapi malah mengadu sana-sini mau jadi apa?  Sudah waktunya kita “berbodo amat” dengan pandangan orang lain Era narsistik yang cenderung komentar ngurusin hidup orang lain  Penulis bukan naif bukan merasa paling benar, tapi ada baiknya kita berproses nobody’s perfect bruh, I’m tired

Bocah Lusuh Hilang Arah

Goresan Pena : Abiyu Safabakas Pemuka Celana kecoklatan, muka merah padam Telanjang kaki berpijak pada nasib muram Yang seharusnya dididik agar berpendidikan Tapi malah menjadi buangan ditengah teriknya awan  Dia pelakunya, dia pencurinya, dia yang menentukan nasibku Dia yang merenggut apapun dariku Dia yang berjingkrak kesenangan diatas deritaku Dia yang saat ini mengibas uang hasil korupsi dariku Ketika generasi kami tak lagi terdidik Nasib bangsa ini tak lagi baik Ketika anak menjadi pemulung lumrah kena terik Diterpa hujan sedikit bangsa hancur tercekik

Satire Untuk Calon Pelukis Histori

Satire Untuk Calon Pelukis Histori Goresan Pena : Abiyu Safabakas Pemuka Ribuan kalam telah terlukis dalam aksara Memenuhi gemintang tuntunan umat manusia Manusia berambisi, egoisme yang menggelora Ketika bapak makan anak menjadi hal yang lumrah Ironi... Ketika pemuda pertiwi debat sana-sini Hanya karena mencari jati diri Yang t’lah terlupa karena ambisi Bobrok... Ketika pena sudah tak lagi berpegang pada histori Karakter bobrok, hanya gembar-gembor lewat teori Lewat nawacita sang rezim, yang sedang unjuk diri Bisu... Saat mantan koruptor ‘ngotot’ ikut PEMILU Jelaslah betapa akutnya krisis rasa malu Siapa yang akan memutus rantai bersambung itu? Apakah kita, kamu, atau aku? Ketika karakter hanya ditepuki, bukan diilhami Bagaimana nasib pertiwi?  Ketika sang pena hanya berpegang pada teori Sekali lagi, sang pelukis sejarah lupa diri Histori berpesan pada sang pena, JASMERAH! Karakter sesuai dengan bangsa berbudi Bukan hanya condong ke barat, embel-embel...

See How Much I Like You (SHMILY)

Rintik hujan kemarin sore masih berbekas di ingatan  Berbekas bersama kenangan  Kenangan di waktu itu, menemukan sebuah harta karun di ujung pelangi  Kenangan yang membuatku bertemu dengan seorang bidadari  Seandainya waktu itu kamu tidak mengambil jalan ini  Setidaknya kita masih bersama menjalani Menjalani segala sesuatu yang berhubungan dengan hati  Aku masih menunggu, tidak ingin mendapat sepotong hati yang baru  Aku masih menyimpan kenangan itu Coklat darimu, serta kata-kata puitis milikmu  Aku menantimu dengan seluruh pengharapan, berharap kau kembali bersamaku ~ The title inspired by Mery Riana's Film

Indonesia, Kampung Halaman

   Hormat, entah apa yang Anda pikirkan tentang hormat. Apakah itu kewibawaan, atau hanya sekedar gerakan tangan yang dimana lengan lurus dengan bahu, lalu dengan tangan menyentuh ujung pelipis. Apapun Anda memaknainya, saya hanya ingin bercerita, tentang negara kita, tempat lahir kita, tanah tumpah darah kita, dan yang jelas kampung halaman kita. Sejauh apapun kakimu melangkah, kampung halamanmu tetap INDONESIA!    Genap 72 tahun lebih 2 hari umur Indonesia. Selama itu pula negara ini bertransformasi, dari Agustus ke Agustus. Semakin bertambah umur, negara ini makin berkembang. Perkembangan itu mencakup dua sisi, entah positif atau negatif. Semoga saja kedepannya semua perkembangan adalah POSITIF!    Menyinggung lagi soal hormat, bayangkan selama 72 tahun sudah berapa kali upacara diselenggarakan di Indonesia. Entah di sekolah-sekolah sampai upacara di Istana Negara. Bendera pertama yang dijahit Fatmawati dari sprei dan lap sudah dimusiumkan, sekarang ...

JOGJA ITU SEMPIT! [MIMPI & CINTA]

   Entah aku mendengar Mozart atau Vivaldi aku tak peduli, yang aku pedulikan sekarang adalah bagaimana mendengar dari sisi yang jelas & jernih.    Life is Simple, who's work hard is getting they're want, and who's only dreaming can't wakeup and start realizing that dream.    Menerpa kesunyian di malam satu hari sebelum umurku di dunia ini berkurang. Ya, satu hari sebelum ulang tahunku. Ke-12. Dengan hadiah berupa nilai Ujianku yang alhamdulillah memuaskan. Meskipun bukan jadi yang pertama di sekolah, tapi aku tetap senang.    Dalam hening musala, aku teringat bahwa aku telah meraih cita-citaku yang terdekat. Masuk SMP harapanku dengan baik. Ambisiku menggebu, entah bagaimana aku menjelaskannya. Ide-ide mendidih siap keluar dari otakku    Entah dalam tahap apa aku ini, apakah dalam fase pembentukkan jati diri? Bagaimanapun, aku tetap harus bisa bersabar, semoga tidak ada amarah yang kugunakan. Fase-fase inilah yang m...

AMBISI

   Ambisi, sebuah kata yang pasti sudah sering terdengar. Berhubungan dengan keegoisan, amarah, dan kejahatan. Tetapi tidak semua ambisi itu terpaku dalam hal yang negatif. Banyak sekali ambisi yang malah bisa membuat seseorang termotivasi atas apa yang diinginkannya.    Semua lini kehidupan hampir mengenal ambisi. Ambisi untuk mendapatkan ini dan itu. Persaingan? Jelas, ambisi menjurus pada persaingan. Tinggal manusia yang menentukan bersaing secara sehat atau sebaliknya. Ambisi memiliki kedua sisi yang amat berbeda. Sisi pertama , most of positive things ever made. Banyak hal positif untuk mengejar cita-cita, impian, dan keinginan. Bersaing secara sehat dan pintar. Sisi kedua , hal negatif yang membuat orang menghalalkan segara cara. Bersaing secara tidak sehat, dikaitkan dengan keegoisan, keserakahan, tamak, dan haus akan jabatan.    Hanya tinggal para manusia yang menentukan, manusia yang bisa berpikir, manusia yang sejatinya makhluk paling agun...

MENGHARGAI KARYA ANAK BANGSA

Abad ke-21 adalah abad kejayaan teknologi.Semua barang tercipta dengan mudah dan murah.Seluruh perusahaan teknologi,terutama yang bergerak dalam bidang telekomunikasi berlomba-lomba untuk memberikan harga murah dengan spesifikasi yang tinggi.Tapi,kita tidak akan membahas tentang itu.Kita akan membahas tentang animasi.    Para animator di Indonesia itu sebenarnya sangat handal,tidak kalah dengan animator luar negeri.Upin-Ipin adalah animasi yang lahir dari tangan pemuda Indonesia,walau akhirnya dibeli oleh salah satu stasiun televisi Malaysia.Keterbatasan animator Indonesia itu adalah ; bayaran yang tidak menentu,belum banyak dukungan dari pemerintah,dan kurang sukanya stasiun televisi Indonesia terhadap animasi lokal.      Stasiun-stasiun televisi di Indonesia lebih memilih membeli animasi luar negeri yang sudah lama akan tetapi terkenal.Itu juga karena para penontonnya! Karena kita! Kita yang lebih suka mickey mouse,sofia the first,donald duck da...